HOT!
Home / Uncategorized / Hari-hari Diharamkan untuk Berpuasa

Hari-hari Diharamkan untuk Berpuasa

Setelah sebelumnya dibahas mengenai macam-macam puasa sunnah dalam Islam, sekarang akan dibahas mengenai hari-hari diharamkan untuk berpuasa & dimakruhkan dalam Islam.

Hari-Hari Diharamkan Untuk Berpuasa

1. Hari raya Idul Fitri (1 Syawal) & Hari raya Idul Adha (10 Dzul Hiiiah)

Dari Abi Sa’id Al-Khudlriyyi ra.: Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang puasa pada dua hari: hari Idul Fitri dan hari Idul Adha (Muttafaq’alaih).

2. Hari Tasyriq (11, 12, dan 13 Dzul Hijjah)

Dari Nubaitsah Al-Hudzali ra.: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hari-hari tasyriq itu adalah hari makan dan minum, dan hari dzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla”. (H.R. Muslim)

An Nawawi rahimahullah dalam Al Minhaj Syarh Shahih Muslim mengatakan, “Hari-hari tasyriq adalah tiga hari setelah Idul Adha. Hari tasyriq tersebut dimasukkan dalam hari ‘ied. Hukum yang berlaku pada hari ‘ied juga berlaku mayoritasnya pada hari tasyriq, seperti hari tasyriq memiliki kesamaan dalam waktu pelaksanaan penyembelihan qurban, diharamkannya puasa, dan dianjurkan untuk bertakbir ketika itu.”

3. Hari syak (Hari Diragukan)

Yaitu hari terakhir bulan Sya’ban yang diragukan datangnya awal puasa dan orang melihat rukyah. Pada hari itu diharamkan berpuasa sesuai dengan hadist Rasulallah SAW, “barangsiapa yang puasa di hari diragukan datangnya puasa, maka ia telah berdurhaka kepada Abal Qasim (yakni Rasulalallah saw)”. (H.R. Abu Dawud) 

4. Hari-hari separuh yang kedua bulan Sya‘ban

Setelah tanggal 15 Sya’ban kecuali jika didahulukan sebelumnya dengan puasa. Maksudnya diharamkan berpuasa setelah tanggal 15 sya’ban tanpa sebab yaitu tanpa didahulukan sebelumnya dengan puasa.

Sesuai dengan hadist Rasulallah saw, “Jika bulan sya’ban telah menengah (telah lewat dari tanggal 15) maka tidak ada puasa sampai datangnya Ramadhan.” (H.R. Shahih Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

5. Puasa seorang istri tanpa keizinan suaminya

Adalah haram bagi seorang istri berpuasa sunnah atau puasa qadha muwassa‘ (yang mempunyai masa yang panjang lagi untuk diqadha) tanpa keizinan suaminya yang berada di dalam negeri. Ini adalah berdasarkan hadits yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya: “Janganlah seorang perempuan (isteri) berpuasa sedangkan suami ada (di dalam negeri) melainkan dengan keizinan suami; dan janganlah dia mengizinkan (orang lain) masuk rumah suami sedangkan suami ada, melainkan dengan keizinan suami; dan apa pun yang dia nafkahkan dari hasil kerja suami tanpa perintah suami, maka separuh pahala itu adalah bagi suami.”

Hari-Hari Dimakruhkan Untuk Berpuasa

1. Khusus Hari Jum’at

Kecuali kalau telah berpuasa sejak hari sebelumnya.

Dari Abi Hurairah ra.:Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan kalian mengistimewakan malam Jum’at untuk sembahyang daripada malam-malam lainnya, dan jangan kalian mengistimewakan hari Jum’at untuk berpuasa dan pada hari-hari lainnya, kecuali bagi seseorang di antara kalian yang kebetulan harus berpuasa di hari itu”. (HR. Muslim)

Bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Jangan sekali-kali seseorang di antara kamu berpuasa di hari Jum’at, kecuali ia berpuasa pula satu hari sebelumnya atau sesudahnya”. (Muttafaq ‘Alaih)

2. Puasa Wishal

Yaitu seorang yang melakukan puasa, tidak berbuka puasa hingga waktu sahur.

Dari Abi Hurairah ra.: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang berpuasa tidak berbuka (wishal), maka berkata seorang laki-laki dari kaum muslimin, “Tapi engkau berwishal ya Rasulullah”. Beliau menjawab, ”Siapa di antara kamu yang seperti aku, di waktu malam aku diberi makan dan minum oleh Allah”. Ketika mereka enggan berhenti dari wishal, beliau ajak mereka berwishal satu hari, kemudian satu hari lagi, kemudian mereka melihat hilal, lalu beliau bersabda, “Kalaulah hilal itu lambat datangnya, aku akan tambah wishal buat kamu”, sebagai pemberani pelajaran kepada mereka tatkala mereka enggan berhenti dari wishal. (Muttafaq ‘alaih)

3.  Puasa Dahriya

Yaitu puasa yang terus-menerus.

Dari Abdullah bin ‘Umar ra.: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak dianggap berpuasa orang yang berpuasa selama-lamanya”. (Muttafaq ‘alaih)

Itulah hari-hari dalam Islam yang diharamkan untuk berpuasa dan dimakruhkan. Semoga artikel tersebut bermanfaat dan menambah ilmu kita.

 

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>